pasokan air di bumi semakin menipis

Sabtu, 24 Juli 2010

Foto satelit sebuah danau di Asia Tengah yang mengejutkan, menunjukkan betapa tindakan manusia telah berdampak pada jumlah pasokan air di dunia.

Di ambil sekitar 40 tahun lalu, foto itu menunjukkan kekeringan di beberapa wilayah seluruh dunia yang disebabkan oleh kebutuhan manusia akan air yang terus meningkat. Kondisi mengejutkan juga terjadi di wilayah Laut Aral di Asia Tengah.

Perubahan jumlah air ini telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Bahkan, pada bulan April lalu, kondisi Laut Aral digambarkan sebagai 'salah satu bencana lingkungan terburuk di dunia' oleh Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon.

Sebagai sebuah danau pedalaman, Aral berada di antara Uzbekistan dan Kazakhstan yang merupakan danau terbesar keempat di dunia. Sejak tahun 1960, danau ini telah kehilangan lebih dari setengah volumenya. Dan saat ini, 50 tahun selanjutnya danau tersebut jadi tinggal hanya sekitar 10% dari pengamatan awal.

Dampak besar di wilayah ini diakibatkan perubahan suhu dan polusi yang terus meningkat hingga level yang berbahaya. Kerusakan danau juga berdampak pada industri perikanan lokal, di mana jumlah pengangguran meningkat dan menyebabkan masalah ekonomi di wilayah tersebut.

Tanah yang kaya dan subur di seluruh dunia juga mengalami masalah yang sama. Wilayah Arid dan Irak pernah memiliki lingkungan hijau yang subur bahkan terkenal sebagai Taman Eden. Namun, pantauan tahun 1973 dan 2000 rawa-rawa telah mengalami kekeringan secara sistematis sejak pertengahan abad 20.

Ini telah menghancurkan lahan pertanian serta habitat umat muslim Marsh Arabs yang pernah dianiaya oleh partai Ba’ath di Irak.

Daerah lain yang menderita adalah Danau Nasse, danau buatan di belakang bendungan Aswan di Sungai Nil. Wilayah ini direncanakan sebagai bagian agrikultural dan industri baru di wilayah Mesir. Namun, wilayah ini telah mengalami kekeringan dengan cepat.

Air telah surut dengan cepat meninggalkan tampilan mirip cincin dengan warna cokelat pada lahan basah di sekitar tepi danau karena kekeringan, dan kebutuhan air yang terus meningkat tajam di wilayah ini.

Dr Benjamin Lloyd-Hughes dari Institut Walker untuk penelitian sistem iklim di University of Reading, mengatakan, "Pada akhirnya bencana yang terlihat di Laut Aral dan rawa-rawa merupakan efek gabungan dari kegiatan manusia dan peningkatan suhu di daerah tersebut.”

Tidak ada banyak perubahan curah hujan di daerah tersebut, namun suhu telah meningkat lebih dari 1 derajat celcius sejak tahun 1970, di mana meningkatkan kerugian akibat penguapan.

“Polusi di daerah tersebut akan menjadi lebih buruk karena air menguap, polutan dalam air menjadi lebih terkonsentrasi dan kurang diencerkan,” ujar Lloyd-Hughes lagi.

"Tidak akan ada perubahan curah hujan tetapi temperatur bisa meningkat menjadi dua derajat celcius pada tahun 2100. Ini tidak baik tetapi tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan Laut Aral dan Mesopotamia.”

Pemanasan global adalah masalah yang terjadi di mana saja dengan jumlah kekeringan terus bertambah. Pertumbuhan sistem pertanian tidak sejalan dengan jumlah penduduk dunia yang terus bertambah.

Kebutuhan air sudah melebihi pasokan sehingga bencana di Laut Aral telah menjadi inidikasi bagi kekhawatiran akan masa depan.

0 komentar:

Posting Komentar